Latest Games :
Home » » PECINTA AHLUL BAIT

PECINTA AHLUL BAIT

Selasa, 05 November 2013 | 0 komentar

Firman Allah Ta'ala :
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya
[surat al-Ahzab ayat 33]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي
Dan cintailah ahli baitku karena kecintaan kepadaku
[HR. Al-Hakim nomor 4716. Al Hakim mengatakan hadits ini shahih al-isnad dan disepakati oleh adz-Dzahabi].

Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي
Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri.” [HR. Bukhari nomor 3712 dan Muslim nomor 1759]
Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu juga mengatakan,
«ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ»
Jagalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap ahli baitnya” [HR. Bukhari nomor 3713]

Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab berkata kepada al-‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,
وَاللهِ لَإِسْلاَمُكَ يَوْمَ أَسْلَمْتَ كَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ إِسْلاَمِ اْلخَطَّابِ – يَعْنِي وَالِدَهُ – لَوْ أَسْلَمَ ؛ لِأَنَّ إِسْلاَمَكَ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُوْلِ الله مِنْ إِسْلاَمِ اْلخَطَّابِ
“Demi Allah, keislamanmu ketika engkau masuk Islam lebih aku sukai daripada Islamnya al-Khaththab- maksudnya adalah ayahnya- seandainya saja ia masuk Islam. Sesungguhnya keislamanmu lebih disukai oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wa salam- daripada keislaman al-Khaththab.”
[Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat: 4/22].

Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, dia mengatakan,
وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ: «أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ»
Dari ‘Aliy (bin Abi Thaalib) : “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berjanji kepadaku bahwasannya tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafiq
[HR. Muslim nomor 78].
‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib pernah, salah seorang ulama ahli bait berkata,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا ”
Wahai sekalian manusia, cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqaat, 5/110].

Al Hasan bin al-Hasan pernah berkata kepada seorang yang berbuat ghuluw kepada ahli bait,
وَيْحَكَ، أَحِبُّونَا لِلَّهِ، فَإِنْ أَطَعْنَا اللَّهَ فَأَحِبُّونَا، وَإِنْ عَصَيْنَا اللَّهَ فَأَبْغِضَونَا، وَلَوْ كَانَ اللَّهُ نَافِعًا أَحَدًا بِقَرَابَةٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغَيْرِ طَاعَةٍ لَنَفَعَ بِذَلِكَ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، قُولُوا فِينَا الْحَقَّ، فَإِنَّهُ أَبْلَغُ فِيمَا تُرِيدُونَ، وَنَحْنُ نَرْضَى مِنْكُمْ
“Celaka anda. Cintailah kami karena Allah. Jika kami menaati Allah, maka cintailah kami. Jika kami mendurhakai-Nya, maka bencilah kami. Jika sekiranya Allah memberikan manfaat kepada seseorang tanpa dia melakukan ketaatan sama sekali dikarenakan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentulah kekerabatan itu bermanfaat bagi ayah dan ibu beliau. Katakanlah perkataan yang benar mengenai kami, karena sesungguhnya hal itu lebih sesuai dengan yang kalian inginkan dan kamipun akan meridhai kalian akan hal itu.”[Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah 8/1483].


Sayyidina Zaid ibn Tsabit radhallahu anhu. Dari asy-Sya’bi, dia mengatakan,
صلى زيد بن ثابت رضي الله عنه على جنازة ، ثم قُرّب له بغلته ليركبها ، فجاء ابن عباس رضي الله عنهما فأخذ بركابه ، فقال زيد : خل عنك يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال هكذا نفعل بالعلماء ، فقبّل زيد يد ابن عباس وقال ، هكذا أُمِرْنا أن نفعل بأهل بيت نبينا
Zaid ibn Tsabit radhiallahu ‘anhu menyalatkan suatu jenazah, kemudian keledainya didekatkan kepadanya untuk dinaiki. Tiba-tiba datang Ibnu Abbas radhallahu anhu yang langsung memegangi kekangnya (untuk mempersilakan Zaid). Maka Zaid berkata: ‘Biarkan wahai anak paman rasul shalallahu alaihi wa salam.’ Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Beginilah kami diperintah untuk bersikap terhadap para ulama’. Maka Zaid mencium Ibnu Abbas dan berkata, ‘Beginilah kami diperintah untuk berbuat kepada ahli bait Nabi kami.’
[Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat 2/360].

Sayyidina Anas radhiallahu ‘anhu, dia berkata,
مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ رُؤْيَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا إِلَيْهِ، لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ
“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya daripada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena tahu kebencian beliau atas hal itu” [Shahih. HR. Bukhari dalam Adab al-Mufrad nomor 946].

Sayyidina Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata,
أنَّ خالد بنَ سعيد بعث إلى عائشةَ ببقرةٍ من الصَّدقةِ فردَّتْها، وقالت: إنَّا آلَ محمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لا تَحلُّ لنا الصَّدقة
Khalid bin Sa’id pernah diutus untuk memberikan seekor sapi hasil zakat kepada ‘Aisyah, namun ia menolaknya seraya berkata : “Sesungguhnya keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dihalalkan menerima zakat“ [HR. Ibnu Abi Syaibah 3/214 dengan sanad shahih].

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i berkata:
يكفيكم من عظيم الفخـــر أنكم …#... من لم يصل عليكم لا صلاة له
Wahai ahli bait Rasulullah, mencintai kalian adalah kewajiban yang ditetapkan Allah di dalam al-Quran yang diturunkan-Nya
Cukup bagi kalian dari kebanggaan terbesar yang ada bahwa orang yang tidak bershalawat kepada kalian (di dalam shalat), maka tidaklah sah shalatnya.[KITAB I’anah ath-Thalibin Juz 1 hal 200]


Imam Abu Bakr al-Ajurri al-Baghdadi mengatakan,
وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَنُو هَاشِمٍ , عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَجَعْفَرٌ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ , وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
“Wajib bagi setiap mukmin dan mukminah mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah Bani Hasyim, ‘Ali bin Abi Thalib, termasuk anak dan keturunannya; Fathimah, termasuk anak dan keturunannya; al-Hasan dan al-Husain, termasuk anak dan keturunan keduanya; Ja’far ath-Thayyar, termasuk anak dan keturunannya; Hamzah, termasuk anak dan keturunannya; al-‘Abbas, termasuk anak dan keturunannya. Semoga Allah meridhai mereka.”
[KITAB Asy Syari’ah Juz 5 hal 2276].

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahulah  mengatakan,
أشرفُ الأنساب نسَبُ نبيِّنا محمد صلى الله عليه وسلم، وأشرف انتسابٍ ما كان إليه صلى الله عليه وسلم وإلى أهل بيتِه إذا كان الانتسابُ صحيحاً، وقد كثُرَ في العرب والعجم الانتماءُ إلى هذا النَّسب، فمَن كان من أهل هذا البيت وهو مؤمنٌ، فقد جمَع الله له بين شرف الإيمان وشرف النَّسب، ومَن ادَّعى هذا النَّسبَ الشريف وهو ليس من أهله فقد ارتكب أمراً محرَّماً، وهو متشبِّعٌ بِما لَم يُعط،
وقد قال النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ((المتشبِّعُ بِما لَم يُعْطَ كلابس ثوبَي زور))، رواه مسلمٌ في صحيحه (2129) من حديث عائشة رضي الله عنها.
وقد جاء في الأحاديث الصحيحة تحريمُ انتساب المرء إلى غير نسبِه، ومِمَّا ورد في ذلك حديثُ أبي ذر رضي الله عنه أنَّه سَمع النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يقول: ((ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري.
“Nasab termulia adalah nasab Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan penisbatan termulia adalah penisbatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada ahli bait beliau, jika penisbatan tersebut benar adanya. Telah banyak terjadi di negeri Arab dan selainnya, penisbatan kepada nasab yang mulia ini. Barangsiapa yang memang termasuk ahli bait dan dia mukmin, maka sungguh Allah telah mengumpulkan baginya antara kemuliaan iman dan kemuliaan nasab. Namun, barangsiapa yang mengklaim nasab yang mulia ini sedangkan dirinya bukanlah bagian darinya, maka sungguh dia telah melakukan tindakan yang haram dan termasuk orang yang berperilaku dusta terhadap sesuatu yang tidak dimiliki.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan)” [HR. Muslim nomor 2129 dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha].
Terdapat dalam berbagai hadits yang shahih haramnya penisbatan diri seseorang kepada selain nasabnya. Diantaranya adalah hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang itu bukan ayahnya), melainkan telah kufur kepada Allah. Barangsiapa yang mengaku-ngaku keturunan sebuah kaum, padahal dia tidak bernasab kepada mereka, maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka” [HR. Bukhari nomor 3508 dan Muslim nomor 112. Lafadz hadits tersebut milik Bukhari].

[KITAB Fadhlu Ahli al-Bait hlm. 82-83]

Imam al-Ajurri mengatakan,
هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَاجِبٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَحَبَّتُهُمْ وَإِكْرَامُهُمْ وَاحْتِمَالُهُمْ وَحُسْنُ مُدَارَاتِهِمْ , وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ , وَالدُّعَاءُ لَهُمْ , فَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ أَوْلَادِهِمْ وَذَرَارِيِّهِمْ , فَقَدْ تَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ سَلَفِهِ الْكِرَامِ الْأَخْيَارِ الْأَبْرَارِ , وَمَنْ تَخَلَّقَ مِنْهُمْ بِمَا لَا يُحْسِنُ مِنَ الْأَخْلَاقِ , دُعِيَ لَهُ بِالصَّلَاحِ وَالصِّيَانَةِ وَالسَّلَامَةِ , وَعَاشَرَهُ أَهْلُ الْعَقْلِ وَالْأَدَبِ بِأَحْسَنِ الْمُعَاشَرَةِ وَقِيلَ لَهُ: نَحْنُ نُجِلُّكَ عَنْ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِأَخْلَاقِ لَا تُشْبِهُ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ , وَنَغَارُ لِمِثْلِكَ أَنْ يَتَخَلَّقَ بِمَا تَعْلَمُ أَنَّ سَلَفَكَ الْكِرَامَ الْأَبْرَارَ لَا يَرْضَوْنَ بِذَلِكَ , فَمِنْ مَحَبَّتِنَا لَكَ أَنْ نُحِبَّ لَكَ أَنْ تَتَخَلَّقَ بِمَا هُوَ أَشْبَهُ بِكَ , وَهِيَ الْأَخْلَاقُ الشَّرِيفَةُ الْكَرِيمَةُ , وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ لِذَلِكَ
“Mereka itulah ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajib bagi kaum muslimin mencintai, memuliakan, berbuat baik, bersabar atas mereka dan mendo’akan kebaikan bagi mereka. Barangsiapa diantara mereka, dari anak dan keturunan ahli bait yang bagus agamanya, maka dia telah berakhlak dengan akhlak pendahulunya yang mulia, yang terpilih lagi berbudi. Barangsiapa diantara mereka yang buruk akhlaknya, maka kebaikan, penjagaan dan keselamatan dido’akan baginya. Dan mereka yang berakal dan beradab hendaknya mempergauli mereka dengan baik seraya mengatakan kepadanya (ahli bait yang bermaksiat), “Kami ingin mensucikanmu agar engkau tidak berakhlak dengan akhlak yang tidak dimiliki oleh pendahulumu yang mulia dan berbudi. Kami cemburu kepada semisal dirimu jika berakhlak dengan akhlak yang engkau tahu bahwa pendahulumu yang mulia lagi berbudi tidak meridhainya. Dan termasuk kecintaan kami kepadamu, kami ingin agar engkau berakhlak dengan akhlak yang layak bagimu, yaitu akhlak yang agung dan mulia. Allah-lah yang mampu memberikan taufik.” [Asy Syari’ah 5/2276].


Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan,
فأهل السنـــة يحبونهم ويحترمونهم ويكرمونهم؛لأن ذلك من احترام النبي صلى الله عليه وسلم وإكرامه ولأن الله ورسولــه أمــر بذلك،قال تعالى: {قل لا أسألُكم عليه أجراً إلا المودَّة في القُرْبى}،وجاءت نصوص من السنة بذلك،منها ما ذكر الشيخ.وذلك إذا كانوا متبعين للسنة مستقيمين على المِلّة،كما كان عليه سلفهم كالعباس وبنيه،وعليٍّ وبنيه.أما من خــالف السنة ولم يَستقِم على الدين فإنه لا تجوز محبته ولو كان من أهل البيت
“Ahlu as-sunnah mencintai, menghormati dan memuliakan mereka (ahli bait), karena hal itu termasuk tindakan menghormati dan memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah dan rasul-Nya pun memerintahkan demikian. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. Berbagai nash dari hadits Nabi menyatakan hal tersebut, diantaranya telah disebutkan Syaikh. Hal ini berlaku jika mereka mengikuti sunnah dan istiqamah di atas agama sebagaimana pendahulu mereka seperti al-‘Abbas dan anaknya, ‘Ali dan anaknya. Adapun jika mereka menyelisihi sunnah dan tidak komitmen terhadap agama, maka tidak boleh mencintai mereka meski mereka ahli bait.” [Syarh Aqidah al-Wasithiyah hlm. 148].
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. M45 Macan Asia Santri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger